Leadership dan Followership: Dua Kekuatan Penentu Kesuksesan Organisasi

PSIKOLOGI INDUSTRI

10/25/20223 min read

Leadership dan Followership: Dua Kekuatan Penentu Kesuksesan Organisasi

Banyak orang menganggap bahwa leadership (kepemimpinan) lebih penting daripada followership. Ketika perusahaan mencapai keberhasilan, CEO atau pemimpin biasanya mendapatkan pengakuan. Sebaliknya, ketika organisasi mengalami kegagalan, pemimpin sering menjadi pihak yang disalahkan. Padahal, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemimpin, tetapi juga oleh kualitas para pengikutnya.

Barbara Kellerman, dalam artikelnya What Every Leader Needs to Know About Followers, menjelaskan bahwa leadership dan followership merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Pemimpin memengaruhi pengikut melalui keputusan dan kebijakannya, tetapi pengikut juga dapat memengaruhi pemimpin melalui dukungan, kritik, penolakan, dan partisipasi mereka.

Lima Tipe Followership

Kellerman membagi pengikut menjadi lima kategori berdasarkan tingkat keterlibatan mereka dalam organisasi. Pembagian ini membantu manajer memahami perilaku karyawan dan menentukan pendekatan yang sesuai.

1. Isolates

Isolates adalah karyawan yang hampir tidak memiliki ketertarikan terhadap organisasi, tujuan perusahaan, maupun produk yang dihasilkan. Mereka cenderung tidak peduli terhadap apa yang terjadi di lingkungan kerja. Manajer dapat mencoba meningkatkan keterlibatan mereka melalui pelatihan, pengembangan profesional, dan komunikasi yang lebih baik.

2. Bystanders

Bystanders adalah karyawan yang mengetahui apa yang terjadi dalam organisasi, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Misalnya, seorang karyawan mengetahui adanya inefisiensi operasional, tetapi tidak bersedia menyampaikan masukan kepada manajemen. Manajer perlu memahami apakah sikap pasif tersebut disebabkan oleh kurangnya motivasi, ketakutan terhadap konsekuensi, atau budaya organisasi yang tidak terbuka terhadap kritik.

3. Participants

Participants adalah karyawan yang memiliki kepedulian terhadap organisasi dan pemimpinnya. Mereka bersedia memberikan kontribusi, menyampaikan pendapat, serta terlibat dalam kegiatan perusahaan. Namun, mereka tidak selalu menyetujui seluruh kebijakan pemimpin. Contohnya adalah karyawan yang memberikan ide dalam penyusunan strategi perusahaan dan berdiskusi dengan manajemen mengenai kebijakan yang dianggap kurang tepat.

Manajer perlu mendengarkan kelompok ini karena mereka sering memiliki pengetahuan langsung mengenai persoalan operasional. Mengabaikan masukan mereka dapat menjadi kesalahan besar dalam pengambilan keputusan.

4. Activists

Activists adalah pengikut yang memiliki pendapat kuat mengenai pemimpin dan organisasi. Mereka secara aktif berusaha mendukung pemimpin atau justru menentang dan mendorong pergantiannya. Kelompok ini dapat menjadi sumber inovasi dan perubahan organisasi. Namun, manajer perlu memahami alasan di balik kritik dan penentangan mereka.

5. Diehards

Diehards merupakan pengikut dengan tingkat komitmen tertinggi. Mereka bersedia melakukan pengorbanan pribadi yang besar demi seseorang, gagasan, atau tujuan tertentu. Komitmen tersebut dapat diarahkan untuk mendukung maupun menentang pemimpin.

Kellerman memberikan contoh Bunnatine H. Greenhouse, seorang pejabat pengadaan di Angkatan Darat Amerika Serikat yang mengkritik pemberian kontrak pemerintah yang dianggapnya tidak semestinya. Meskipun menghadapi konsekuensi profesional, ia tetap mempertahankan keberatannya. Contoh ini menunjukkan bahwa pengikut dengan komitmen tinggi dapat berani menentang pihak berkuasa demi mempertahankan prinsip yang diyakininya.

Kelima kategori tersebut menggambarkan tingkat keterlibatan seseorang, bukan ukuran karakter moralnya. Tingkat keterlibatan yang tinggi tidak selalu berarti seseorang merupakan pengikut yang baik.

Mengapa Followership Penting?

Dari pemikiran Kellerman, terdapat beberapa pelajaran penting bagi organisasi.

Pertama, wewenang tidak selalu menjamin pengaruh. Karyawan yang memiliki pengetahuan khusus dapat memengaruhi keputusan strategis meskipun tidak memiliki jabatan senior.

Kedua, pengikut bukan individu yang pasif. Mereka dapat mendukung, mengkritik, menentang, atau memilih tidak terlibat dalam keputusan organisasi.

Ketiga, ketidakpedulian memiliki konsekuensi. Ketika karyawan memilih diam terhadap praktik yang tidak efektif, mereka secara tidak langsung dapat mempertahankan permasalahan organisasi.

Keempat, keterlibatan dapat menghasilkan dampak positif maupun negatif. Karyawan yang aktif dapat mendorong inovasi, tetapi juga dapat memperkuat kepemimpinan yang destruktif apabila mendukung pemimpin yang tidak etis.

Kelima, pemimpin harus memahami pengikutnya. Setiap tipe pengikut membutuhkan pendekatan manajemen yang berbeda sesuai dengan motivasi dan tingkat keterlibatannya.

Apa yang Membuat Seseorang Menjadi Pengikut yang Baik?

Menurut Kellerman, tingkat keterlibatan saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang merupakan pengikut yang baik. Karyawan yang aktif belum tentu memberikan kontribusi positif apabila mereka mendukung pemimpin yang tidak efektif atau tidak etis.

Pengikut yang baik adalah mereka yang mendukung pemimpin yang efektif dan etis, tetapi tidak mengikuti keputusan secara membabi buta. Mereka mampu mengevaluasi kebijakan, mempertimbangkan informasi secara objektif, dan berani menentang keputusan yang berpotensi merugikan organisasi.

Sebaliknya, pengikut yang buruk dapat berupa individu yang tidak memberikan kontribusi, menentang pemimpin yang baik tanpa alasan tepat, atau secara aktif mendukung pemimpin yang tidak etis. Mereka juga dapat memilih diam ketika sebenarnya memiliki kesempatan untuk mencegah keputusan yang merugikan.

Kellerman menggunakan contoh mantan eksekutif Al Dunlap untuk menggambarkan bagaimana dukungan terhadap kepemimpinan destruktif atau kegagalan untuk menentangnya dapat berkontribusi terhadap masalah organisasi.

Kesimpulan

Keberhasilan organisasi bukan semata-mata hasil dari kemampuan seorang pemimpin. Karyawan sebagai pengikut juga memiliki tanggung jawab dan pengaruh terhadap arah organisasi.

Pemimpin yang baik tidak hanya mampu memberikan instruksi, tetapi juga bersedia mendengarkan kritik, memahami karakter pengikut, dan memberikan ruang bagi karyawan untuk berpartisipasi.

Pada akhirnya, organisasi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara leadership dan followership. Pemimpin membutuhkan pengikut yang berani berpikir kritis, sementara pengikut membutuhkan pemimpin yang terbuka terhadap masukan. Kesuksesan organisasi akan lebih mungkin tercapai ketika keduanya bekerja sama dan memiliki komitmen terhadap tujuan serta nilai-nilai organisasi.

Referensi : Collins, M.,2023. For the culture: the power behind what we buy, what we do and who we want to be. New York: Public Affairs

Related Stories

Good News Ltd © 2022

Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.

Reframe your inbox

Subscribe to our newsletter and never miss a story.

We care about your data in our privacy policy.