Kita Tidak Hanya Bekerja di Perusahaan, Kita Juga Dibentuk Olehnya
PSIKOLOGI INDUSTRI


Kita Tidak Hanya Bekerja di Perusahaan, Kita Juga Dibentuk Olehnya
Bayangkan suatu hari kamu diterima bekerja di sebuah perusahaan teknologi ternama. Pada awalnya, tujuanmu sederhana: mendapatkan pekerjaan yang baik, memperoleh penghasilan, dan membangun karier.
Namun, setelah beberapa bulan bekerja, kamu mulai menyadari sesuatu.
Kamu mulai menggunakan istilah-istilah yang biasa digunakan rekan kerjamu. Cara berbicaramu dalam rapat perlahan berubah. Kamu mulai mengagumi pemimpin perusahaan dan percaya pada prinsip-prinsip yang selama ini mereka sampaikan. Bahkan, ketika berbicara dengan teman di luar kantor, kamu tanpa sadar sering mengulang gagasan yang berasal dari tempat kerjamu.
Awalnya, kamu hanya bekerja di sana. Sekarang, perusahaan itu mulai menjadi bagian dari dirimu.
Fenomena seperti inilah yang dialami Marcus Collines, penulis buku berjudul For the culture: the power behind what we buy, what we do and who we want to be. Marcus Collines mendapatkan kesempatan magang di Apple pada musim panas 2008, setelah menyelesaikan tahun pertama program MBA di University of Michigan. Ia bekerja di bagian pemasaran iTunes dan mengelola kemitraan dengan Nike Sport Music serta sebuah program pemasaran untuk mahasiswa.
Pada akhir musim panas, ia tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga merasa menjadi bagian dari komunitas Apple. Ia mulai menyebut dirinya sebagai seorang Apple guy. Ia bangga dengan identitas tersebut dan tanpa sadar mengadopsi cara berpikir, bahasa, serta gaya presentasi yang identik dengan perusahaan itu.
Ia telah menjadi bagian dari budaya Apple.
Menariknya, perubahan ini tidak hanya terjadi pada dirinya. Banyak karyawan dan penggemar perusahaan besar mengalami hal serupa. Perusahaan bukan lagi sekadar tempat untuk bekerja atau membeli produk. Perusahaan dapat menjadi sumber identitas, kebanggaan, dan cara pandang terhadap dunia.
Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?
Ketika Keyakinan Menjadi Cara Hidup
Untuk memahami fenomena tersebut, kita perlu melihat budaya lebih dekat.
Budaya bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya juga merupakan sekumpulan keyakinan dan nilai yang memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupannya.
Coba perhatikan lingkungan di sekitarmu.
Ada orang yang sangat disiplin terhadap waktu karena menganggap ketepatan waktu sebagai bentuk profesionalisme. Ada pula orang yang lebih mengutamakan hubungan personal daripada aturan formal. Di lingkungan kerja tertentu, keberanian menyampaikan pendapat dianggap sebagai tanda kompetensi. Di lingkungan lain, menghormati senior dan menghindari konflik justru menjadi nilai utama.
Perbedaan tersebut tidak selalu muncul karena seseorang memiliki kepribadian yang berbeda. Bisa jadi, mereka tumbuh dan bekerja dalam lingkungan budaya yang berbeda.
Hal yang sama dapat ditemukan dalam agama dan politik. Keyakinan yang dianut seseorang sering kali memengaruhi cara berpakaian, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Dengan kata lain, apa yang kita yakini di dalam pikiran perlahan terlihat melalui tindakan kita sehari-hari.
Inilah yang disebut sebagai shared way of life, atau gaya hidup bersama: cara hidup yang terbentuk karena sekelompok orang memiliki nilai, keyakinan, dan ideologi yang sama.
Benda Kecil yang Menyimpan Makna Besar
Sekarang, bayangkan seorang perempuan yang mengenakan hijab.
Bagi orang yang melihatnya sekilas, hijab mungkin hanya tampak sebagai kain yang menutupi rambut. Namun, bagi perempuan yang mengenakannya, hijab dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bisa menjadi bagian dari keyakinan agama, identitas pribadi, dan komitmen terhadap nilai kesopanan.
Hal serupa dapat ditemukan pada rosario yang digunakan umat Katolik. Benda tersebut bukan sekadar rangkaian manik-manik. Bagi penggunanya, rosario berkaitan dengan praktik ibadah dan keyakinan spiritual.
Benda-benda seperti ini disebut artefak budaya.
Artefak budaya merupakan benda yang memiliki makna bagi kelompok tertentu. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari pakaian, perhiasan, simbol, peralatan, hingga teknologi.
Yang menarik, artefak tidak hanya membantu kita menunjukkan siapa diri kita kepada orang lain. Artefak juga dapat mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya kita bertindak.
Pernahkah kamu mengenakan pakaian formal lalu merasa harus bersikap lebih profesional? Atau ketika mengenakan seragam organisasi, kamu merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik kelompok tersebut?
Benda yang kita kenakan dapat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Ketika kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok, kita juga cenderung menyesuaikan perilaku dengan nilai-nilai kelompok itu.
Jadi, artefak bukan hanya sesuatu yang kita gunakan. Dalam situasi tertentu, artefak juga membantu membentuk cara kita bertindak.
Sebuah Gelang yang Membantu Menyelamatkan Anak-Anak
Namun, kekuatan budaya tidak berhenti pada identitas dan kebiasaan. Pemahaman terhadap budaya bahkan dapat membantu menyelesaikan masalah sosial yang serius.
Mari kita beralih ke Afghanistan.
Dalam kisah yang dibahas oleh sumber, tenaga medis menghadapi kesulitan dalam mencatat riwayat imunisasi anak-anak. Kondisi tersebut mempersulit mereka untuk mengetahui vaksin apa yang telah diterima seorang anak dan vaksin apa yang masih diperlukan.
Di sisi lain, sebagian masyarakat juga memiliki kecurigaan terhadap program vaksinasi.
Bagaimana cara mengatasi masalah ini?
Alih-alih hanya mengandalkan penjelasan medis, Kementerian Kesehatan Afghanistan bekerja sama dengan McCann Health India untuk memanfaatkan sebuah benda yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat: gelang bayi yang secara tradisional digunakan sebagai jimat pelindung.
Gelang tersebut kemudian diberi fungsi baru.
Setiap warna manik-manik mewakili jenis vaksin tertentu. Misalnya, manik-manik kuning menunjukkan vaksin hepatitis B, sedangkan manik-manik biru menunjukkan vaksin influenza. Setiap kali seorang anak menerima vaksin, tenaga medis menambahkan manik-manik yang sesuai ke gelangnya.
Bayangkan perubahan yang terjadi.
Sebuah benda yang sebelumnya digunakan dalam tradisi budaya kini juga berfungsi sebagai catatan kesehatan. Orang tua tetap dapat menggunakan gelang yang memiliki makna bagi mereka, sementara tenaga medis memperoleh cara yang lebih praktis untuk melacak pemberian vaksin.
Menurut sumber tersebut, pendekatan ini membantu ribuan anak menyelesaikan jadwal imunisasi mereka dan menyelamatkan banyak nyawa.
Pelajaran pentingnya bukan bahwa budaya harus digantikan oleh pendekatan modern. Sebaliknya, keberhasilan tersebut menunjukkan bagaimana pemahaman terhadap budaya dapat membantu mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan tujuan kesehatan publik.
Orang tidak selalu harus mengubah keyakinannya terlebih dahulu agar perilakunya berubah. Terkadang, kita hanya perlu menemukan cara yang tepat untuk menghubungkan kebiasaan yang sudah ada dengan tujuan baru.
Apa Artinya bagi Pemimpin dan Dunia Bisnis?
Kisah-kisah tersebut memberikan pelajaran penting bagi para pemimpin, praktisi pemasaran, dan pengelola organisasi.
Jika seorang pemimpin ingin mengubah perilaku karyawan, ia tidak cukup hanya membuat aturan baru. Ia perlu memahami nilai-nilai yang selama ini dipercaya oleh karyawannya.
Jika sebuah perusahaan ingin menarik konsumen, perusahaan tersebut tidak cukup hanya menawarkan produk yang berkualitas. Perusahaan juga perlu memahami identitas dan makna sosial yang ingin diperoleh konsumen melalui produk tersebut.
Sementara itu, bagi pembuat kebijakan, memahami budaya masyarakat dapat membantu menghasilkan program yang lebih mudah diterima.
Semua ini berawal dari satu pertanyaan sederhana: mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan?
Jawabannya tidak selalu terletak pada apa yang terlihat di permukaan. Di balik pakaian, bahasa, kebiasaan, dan keputusan seseorang, terdapat nilai serta keyakinan yang mungkin telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Karena itu, memahami manusia berarti melihat lebih jauh daripada perilakunya saja. Kita perlu memahami makna di balik perilaku tersebut.
Memahami Manusia Melalui Budayanya
Kita sering menganggap bahwa keputusan dan tindakan kita sepenuhnya berasal dari pilihan pribadi. Padahal, sebagian cara kita berpikir dan bertindak terbentuk melalui lingkungan sosial, organisasi, dan kelompok yang kita ikuti.
Budaya membantu kita menentukan siapa diri kita, apa yang kita anggap penting, dan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia.
Dari seorang karyawan Apple yang mengadopsi identitas perusahaannya hingga gelang bayi di Afghanistan yang membantu pencatatan imunisasi, kita melihat satu pola yang sama: keyakinan memengaruhi cara hidup, sementara benda dan tindakan sehari-hari menjadi cerminan dari keyakinan tersebut.
Bagi siapa pun yang ingin memahami perilaku manusia, baik dalam psikologi, manajemen, maupun pemasaran, pelajarannya sederhana: jangan hanya melihat apa yang dilakukan seseorang. Cobalah memahami dunia tempat orang tersebut hidup dan makna yang ia berikan pada tindakannya.
Sebab, sering kali, untuk memahami perilaku manusia, kita harus terlebih dahulu memahami budayanya.
Referensi : Collins, M.,2023. For the culture: the power behind what we buy, what we do and who we want to be. New York: Public Affairs
Related Stories
Good News Ltd © 2022
Good News empowers the generation of tomorrow for a brighter future and hope for every individual.
Reframe your inbox
Subscribe to our newsletter and never miss a story.
We care about your data in our privacy policy.